AKHIRNYA.
Ya, akhirnya PSSI resmi mengumumkan John Herdman (JH), pelatih asal Inggris yang sukses di Selandia Baru dan Kanada, menjadi pelatih nasional. Di tangannya kita berharap prestasi lebih baik dari yang ditorehkan Shin Tae-yong, dapat dicapai.
Oh ya, soal STY, saya kilas balik sedikit. Ketika Pelatih asal Korea Selatan itu ditunjuk, langsung atau tidak, saya ikut berperan bersama sahabat saya, Eddy Lahengko, yang juga wartawan sepakbola senior, Sinar Harapan/Suara Pembaruan.
Saat itu, saya Staf Khusus Menpora, Zainudin Amali, ikut mengusulkan Shin Tae-yong ketimbang Luis Mila, dalam rapat dengan Iwan Bule (Ketum PSSI) , Iwan Budianto (esko), Ratu Tisa (sekjen), jelang Indonesia vs Vietnam di Seag Manila, 2019, dipilihlah STY.
Kecintaan saya dan mayoritas pendukung timnas dengan STY, tak akan pernah hilang. Suka atau tidak, sedikit atau banyak, STY sudah ikut memperbaiki sepakbola nasional. Tapi, waktu tidak bisa diputar ulang, kita harus terus berjalan kedepan. Sikap kritis kita, wartawan dan medsos, tetap pula harus dijaga dan terjaga.
JH Total
Dua hari menjelang tahun baru, seorang sahabat lama, mengajak Rully Neere, Bung Yesayas Octovianus, dan saya, berbincang soal sepakbola. Dari awal hanya dirancang 30 menit, ternyata diskusi berjalan sangat panjang.
Uniknya, sahabat yang satu ini tidak ingin namanya dipublikasikan. “Gua gak perlu dikenal, tapi kita berbagi informasi dan pengalaman, penting,” katanya serius.
Jujur, tidak banyak orang yang seperti ini, apalagi di sepakbola nasional. Jujur juga, bagi banyak tokoh, sepakbola justru dijadikan panggung dan panjat sosial, ada yang malu-malu, ada pula yang malu-maluin. Sementara inti sepakbola itu sendiri, proses utamanya, tak pernah disentuh dengan benar.
“Gua kenal JH dengan baik, ” lanjutnya. “Gua juga baik dengan Giovanni Christiaan van Bronckhorst (GvB). Waktu gua di Belanda, kami sering main bareng. Ya, tetanggalah,” katanya lagi.
Mudah-mudahan, PSSI gak keliru menunjuk JH atau GvB, kisahnya. Bedanya, masih tukas sahabat saya itu, JH mau pindah ke Indinesia dan membawa keluarga, sedang GvB, hanya bisa tinggal di sini enam bulan, tanpa keluarga. Dari situ, kami sependapat bahwa JH lebih serius dan akan total.
Maka, ketika Ketua Unun PSSI, Erick Thohir akhirnya mengumumkan JH, saya pikir ini sangat tepat. Sebagai orang yang berkeluarga, JH tak repot harus membagi pikirannya keluarga atau timnas. Sehari-hari, JH akan bergumul dengan keduanya.
“Hebatnya, JH bertekad akan belajar bahasa Indonesia!” tegas sang sahabat. Ini langsung mengingatkan kita pada Toni Pogagnik, pelatih asal Jugoslavia yang pernah sukses membawa timnas Garuda menahan Uni Soviet 0-0 di Olimpiade Merlbourne 1956. “Dia mampu berbahasa Indonesia dengan baik, ” lanjut sahabat saya itu.
Ini mengingatkan kita juga pada Anatoly Polosin yang sukses membawa timnas merebut medali emas Seag Manila, 1991, sebelumnya Berce Matulapelwa, mantan asisten Sinyo Aliandu yang nyaris membawa timnas kita ke Piala Dunia Meksiko 1986, merebut medali emas Seag Jakarta, 1987 untuk pertama kali. Polosin juga bersusah- payah belajar bahasa Indonesia khususnya dengan kami para wartawan sepakbola.
Dengan begitu, rasanya tidak berlebihan jika kita bersama-sama mengawal JH agar jalan indah yang ditinggalkan STY bisa diperindah. Dan jangan lupa, sepakbola itu proses. Tidak akan ada proses yang kilat, dengan begitu, tidak ada prestasi yang diraih dengan cara instan.
Kita berharap JH bisa segera mendalami sepakbola Indonesia. Kita berkeinginan agar JH bisa pula mengkolaborasi pemain-pemain lokal dengan diaspora secara apik. Tentu membutuhkan waktu, tidak seperti kita membolak-balik telapak tangan.
Dan yang paling saya syukuri, PSSI tidak lagi saling bertabrakan pandangan secara terbuka. Tolong dicatat tidak ada organisasi yang sukses prestasinya jika pemangku kepentingannya tidak bersatu. Berbeda pendapat sah-sah saja, tapi hanya dalam ruang rapat.
Bravo sepakbola nasional…
M. Nigara
Wartawan Sepakbola Nasional