Catatan Bung Nigara

In Memoriam Adi Seandana – ‘Buldoser’ dari Bali, Telah Pergi

Published

on

ADI SWANDANA, petinju muda asal Bali, tiba-tiba jadi momok pembicaraan, jelang PON X. Jika meminjam istilah saat ini, apa saja langkah Adi Swandana, jadi viral.

Sebagai wartawan muda, saya juga mendapat tugas khusus untuk mengejar anak Bali itu. Murah senyum dan agak acuh tak acuh, begitu kesan pertama saya saat bertemu.

“Ya terserah, saya tidak mikirin dia (Syamsul Anwar Harahap), ” begitu jawabannya saat ditanya kemungkinan ia bertemu Syamsul.

Jelang final PON X, Jakarta, di kelas Welter ringan, berita tentang persaingan antar keduanya makin sengit. Hal ini bisa dimengerti, Syamsul adalah petinju yang sempat mengalahkan Thomas Hearns di Piala Presiden dengan TKO.

Kekalahan Thomas bukan hanya menggegerkan dunia tinju Indonesia, tapi juga dunia. Maklum Thomas Hearns adalah petinju muda yang sedang naik daun. Dia juga jadi andalan Amerika untuk Olimpiade dan Kejuaraan Dunia.

Advertisement

Hearns pada akhirnya terbukti menjadi petinju besar baik di amatir maupun profesional. Dia masuk dalam kuartet paling seru dalam dunia tinju yang dikenal sebagai the fabulous four: Sugar Ray Leonard, Marvelous Marvin Hagler, Roberto Duran, dan Thomas the hit man Hearns.

Adi sendiri baru pertama tampil di PON. Namun penampilannya sangat mengesankan. Sejak tampil pertama, Adi bak Buldoser, maju dan maju terus. Ia seperti tahan pukul dan memiliki pukulan yang bobotnya sangat keras serta agak liar.

Betul saja, dalam final di Istora Senayan, Adi bertemu dengan Syamsul. Pertarungan berjalan sangat luar biasa. Berulang kali Syamsul hanya bertahan di tali ring. Gempuran buldoser dari Bali itu begitu rupa, setiap gerak pukulan selalu diiringi pekik ribuan penonton final.

Di akhir laga, Adi menang dan meraih medali emas. Ia menyumbang 1 dari 8 emas kontingen Bali. Sejak itu, Adi langsung masuk daftar petinju elit nasional.

Rabu, 18 Februari 2026, Adi yang nama lengkapnya I Gusti Agung Adi Swandana, berpulang untuk selamanya. Setahun terakhir Adi terkena stroke.

Sepanjang hidupnya, Adi tak bisa lepas dari dunia tinju. Dia bahkan merelakan ruang tengah rumahnya jadi Sasana Tinju Adi Swandana.

Advertisement

Dumogi Amor Ing Acintya (Selamat jalan sahabat)…

M. Nigara
Wartawan Tinju Senior

Exit mobile version