Connect with us

Catatan Bung Nigara

In Memoriam Dede Sulaiman – Gol Terakhir Seorang Dede

Published

on

INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI ROJIUN.

Tak seorang pun tahu, kapan waktunya berpulang. Di mana dan sedang apa. Dan, jika waktu telah datang, tak sedetik pun bisa ditunda.

Begitu juga dengan mantan bintang nasional dan klub Indonesia Muda, 1980an, Dede Sulaiman. Datang memenuhi undangan dalam rangka Launching Mapan FC yang bertajuk Satu Anak Satu Bola, tak ada tanda apa pun.

“Sebenarnya saya yang diundang,” kata Rully Neere, mantan teman seangkatan Dede. “Tapi, saya harus berangkat ke Papua. Jadi, saya minta Dede gantiin saya, dan panpel setuju, ” lanjut Rully dengan suara bergetar.

Saya sendiri hadir di Stadion International Soccer Field, Bekasi Timur. Tapi jam 15.15 saya meninggalkan tempat, jadi tidak sempat bertemu dengan Dede untuk terakhir kali. Ahad (25/1/26) itu tim mantan bintang-bintang nasional, Markus Horison, Ismet Sofyan, dan lain-lain bertemu dengan tim Prof Effendy Gazali cs.

Advertisement

Sesaat sebelum acara dimulai, Prof EG meminta saya untuk main. “Kemarin saya main dengan Simon Tahamata, dia juga sudah 69 tahun, abangda ” ujar EG menanggapi penolakan saya.

“Udah bener bang Nig gak main, jangan ada lagi yang meninggal karena jantung,” ucap Rico Ceper yang dipercaya menjadi pembawa acara.

Tak ada kaitan obrolan singkat EG, saya, Rico. Tapi, ketika ada yang akhirnya meninggal, saya seperti kehabisan kata-kata.

Ya, Dede dipanggil pulang setelah mencetak gol, seperti Ricky Yakobi yang juga berpulang selepas mencetak gol. Indahnya Dede berpulang di lapangan, saat sedang bertarung.

Menurut David Sulaksmono yang ikut bermain, Dede selepas mencetak gol, berbalik badan dan berlari kecil. “Lalu jatuh, saya pikir tersandung, ” kata David.

Sebelum bertanding, Dede mengingatkan teman-teman. “Jangan maksa ya, kita main santai aja. Yuuuk kita berdoa dulu,” lanjut David mengenang ucapan Dede di kamar ganti.

Advertisement

*Man ‘aasya ‘ala syaiin maata ‘alaihi didasarkan pada hadits riwayat Muslim yang menyatakan bahwa setiap hamba akan dibangkitkan berdasarkan kondisi saat ia meninggal. Ulama menjelaskan bahwa manusia cenderung wafat dalam keadaan melakukan rutinitas atau kebiasaan sehari-harinya, baik itu ketaatan maupun kemaksiatan.

Sejak SMA
Saya mengenal Dede sejak 1975, saat kami sama-sama di sekolah menengah atas. Saya SMAN 7, Merdeka Timur dan Dede SMA Satria, Rawasari.

Beberapa kali kami bertemu, tapi tak sekalipun kami menang. Terakhir, saat semifinal Ulang Tahun Jakarta, 1975, di lapangan Banteng. Pertarungan berakhir rusuh, karena Dede setelah melewati kiper SMA-7, dia duduki bola, dan bola didorong dengan pantatnya, gol.

Meski demikian, saya dan Dede tetap bersahabat. Terakhir saat akan tampil di Apa Kabar Indonesia Malam, tvone, Desember 2025, kami terkekeh mengenang kisah-kisah masa lalu.

Lewat gol Dede, Indonesia menjuarai Sub-grub IIIB, Pra Piala Dunia 1986. Sayang, di babak berikutnya Indonesia kalah dua kali melawan Korsel, 0-2 saat away ke Seoul dan 1-4 ketika home di Jakarta. Satu-satunya gol timnas kita, juga dihasilkan oleh Dede Sulaiman.

Sebagai mantang bintang, Dede terbilang sangat kritis. Indahnya, kalimat-kalimat yang diluncurkan, tersusun dengan baik. Bukan kalimat-kalimat yang bombastis.

Advertisement

Selamat jalan sahabat, semoga Allah ampuni seluruh khilafmu dan Allah terima iman islammu, aamiin ya Rabb

M. Nigara
Wartawan Olahraga Senior