Catatan Bung Nigara
Perlu Undang-Undang untuk Menjamin Atlet, Pino Bukan Satu-Satunya
Published
5 hours agoon
By
Redaksi
ALHAMDULILLAH, akhirnya Pino Bahari, mantan peraih medali emas tinju kelas menengah, Asian Games, Beijing, 1990 telah keluar dari rumah sakit. Saat ini, Pino tinggal di penginapan, di Kuta, karena cederanya belum sembuh total dan sulit naik ke lantai tiga tempat tinggalnya.
Seperti kita ketahui, Pino mengalani kecelakaan saat sedang menjalankan tugasnya sebagai penarik Ojol, Kamis (16/4/26). Akibat kecelakaan, tulang rusuk dan kakinya patah.
Beruntung Pino memiliki BPJS, meski agak tertunda, akhirnya operasi bisa dilakulan di RS. Mandara, Denpasar Bali. Jumat (24/4/26) Pino diperbolehlan pulang. Pino bukanlah satu-satunya mantan atlet berprestasi yang mengalami penderitaan seperti ini.
Perlindungan Atlet
Senin (27/4/26) Ida Bagus Yoga Adi Putra, Ketua DPC Gerindra Denpasar dan Wakil ketua DPRD kota Denpasar, bersama dua rekannya menjenguk mantan kader Gerindra itu. Sebelumnya, Jumat lalu Yoga dan kawan-kawan berkunjung ke RS, tapi Pino sudah pulang.
Ya, Pino putra sulung pelatih Legendaris asal Bali, Daniel Bahari, pernah terjun ke dunia politik bergabung di partai Gerindra. Tapi, kehidupan semakin berat, setelah keluar, Pino menjadi pengemudi Ojol.

Menurut Yoga, Pino berharap pemerintah segera membuat Undang-Undang untuk menjamin para atlet. “Jangan seperti sekarang, kami para mantan atlet nasional seperti habis manis, sepah dibuang,” kata Yoga menuturkan harapan Pino.
Ya, memang betul. Atlet-atlet nasional dan daerah, apakah mereka yang masih menjadi atlet atau sudah pensiun, harusnya ada jaminan dari pemerintah pusat dan daerah. Yang mereka lakukan, semuanya untuk bangsa dan negara serta daerah masing-masing.
Contoh misalnya, bagi peraih medali, emas, perak, perungu Olimoiade dan Asian Games, jumlahnya sangat sedikit, memperoleh jaminan kesehatan dan atau pensiun. Artinya, jika penerintah pusat melalui Kemenpora memiliki perhatian, nasib Pino dan Pino-Pino lainnya, tidak akan menderita seperti itu.
Tapi, sedihnya Kemenpora sendiri anggarannya sangat terbatas. Jika tidak keliru, saat ini Kemenpora hanya diberikan Rp 1,2 Triliun. Untuk kebutuhan operasional, gaji, serta operasional kantor sudah mencapai Rp 400 miliar. Sementara sisanya sangat sulit untuk dipakai keperluan non pelatnas. Pelatnas saja tidak cukup hanya dengan dana sebesar Rp 800 miliar.
Jujur, hanya dua event di dunia internasional yang mengibarkan bendera merah-putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Satu, saat Presiden datang ke sebuah negara dan menghadiri acara lain, dua, ketika atlet meraih medali emas dalam multi event: Olimpiade, Asian Games, dan Sea Games. Sedihnya, atlet apalagi mantan atlet hidupnya sangat memprihatinkan.
Masih kata Yoga, kasus Pino baru dikrtahui pihaknya, justru setelah viral. “Sebelumnya saya tidak tahu,” ujarnya.

Sekarang, kasus ini sudah dilaporkan langsung ke Pak Hasim Djojohadikusumo, sebagai pembina Gerindra. Mudah-mudahan nasib Pino dan Pino-Pino lainnya bisa segera teratasi.
Untuk Pino sendiri, tetap semangat adikku, tangguhlah seperti bapakmu…
Catatan:
* Wiem Gommies (Kelas Menengah/75 kg)
* Asian Games VI 1970 di Bangkok, Thailand.
* Asian Games VIII 1978 di Bangkok, Thailand.
* Wiem Gommies adalah satu-satunya petinju Indonesia yang mampu meraih dua medali emas Asian Games.
* Pino Bahari (Kelas Menengah/75 kg)
* Asian Games XI 1990 di Beijing, Tiongkok.
* Catatan: Pino Bahari merupakan petinju terakhir Indonesia yang meraih medali emas Asian Games
Catatan M. Nigara
Wartawan Olahraga Senior



Perlu Undang-Undang untuk Menjamin Atlet, Pino Bukan Satu-Satunya

Selamat Ulang Tahun ke-94 PSSI – Terima Kasih Soeratin

In Memoriam Adi Seandana – ‘Buldoser’ dari Bali, Telah Pergi

Catatan Sepakbola – Api Sriwijaya, Menuju Padam Total

In Memoriam Mettu Duaramuri – Sepakbola Untuk Selamanya


