Connect with us

Catatan Bung Nigara

Selamat Ulang Tahun ke-94 PSSI – Terima Kasih Soeratin

Published

on

Catatan Sepakbola

EMPAT tahun menjelang satu abad, hari ini, 96 tahun lalu, seorang pemuda (32), insinyur kereta api lulusan Belanda, demi kemerdekaan rela melepas jabatannya di perusahaan milik Hindia-Belanda
lewat sepakraga.

Dialah Soeratin Sosrosoegondo, lahir di Yogyakarta (17/12/1898). Ayahnya R. Soesrosoegondo, adalah seorang guru di sekolah yang terpandang Kweekschool. Selepas sekolah lanjutan atas di Koningen Wielhelmina School, karena kecerdasannya ia lanjut ke Heckenburg, Hamburg, Jerman, jurusan Teknik Tinggi.

Tahun 1928, sekembali dari Jerman, ia bekerja di kontruksi, merancang dan membangun jembatan kereta api Tegal-Bandung.

Namun jiwanya tak tenang melihat penjajahan begitu rupa. Apalagi kakak istrinya, Sri Woelan, Dokter Boedi Oetomo, salah seorang pendiri Boedi Oetomo, selalu memberikan gambaran tentang kemiskinan dan penindasan kolonial pada bangsanya begitu kejam. Kemerdekaan sangat mutlak harus dicapai.

Advertisement

Soeratin yang kala itu tercatat sebagai pribumi bergaji paling besar, tergugah. Bersama beberapa temannya, termasuk Ernest Albert Mangindaan (ayahanda EE Mangindaan), bersepakat mendirikan Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI) di Yogyakarta.

Langkah PSSI secara tegas mengikuti jejak Soempah Pemoeda, 28 Oktober 1928. Indonesia belum lahir, tapi mereka berani menyatakan ke-Indonesiaannya.

Peran PSSI

Tahun 1906, mudah-mudahan tidak keliru, pemerintah Hindia Belanda secara resmi memasukkan enam cabang olahraga ke Nusantara. Sekali lagi, mudah-mudahan tidak salah: Anggar, Senam, renang, berkuda, bola tangan, dan sepakraga.

Lima cabor inlander diharamkan untuk memainkannya. Hanya sepakraga yang boleh dimainkan. Mengapa? Rupanya, sejak dulu, kaum pribumi selepas berlaga, mereka suka sekali mendiskusikannya.

Kabarnya itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda memperbolehkan kaum pribumi bermain sepakraga. Hampir setiap laga usai, diskusinya sangat panjang seolah lupa segalanya. Untuk itu, pemerintah Hindia Belanda ingin kaum pribumi melupakan kondisi yang nyata, dan terbuai pada diskusi tentang pertandingan.

Istimewanya Soeratin justru ingin memanfaatkan kenyataan itu justru untuk melakukan perlawanan. Jika kakak ipar, Dokter Soetomo berjuang lewat pendidikan, para pejuang di hutan-hutan, dan politisi di meja-meja perundingan, Soeratin dkk berjuang di lapangan.

Advertisement

Buahnya sudah terasa 1938. Di Piala Dunia ketiga, tuan rumah Perancis dan FIFA mengundang PSSI. Catatan: Saat itu perserta PD tidak melalui kualifikasi, tapi undangan tuan rumah yang disetujui FIFA.

Di sini, pemerintah Kolonial Belanda secara resmi mengizinkan PSSI berangkat ke PD, Perancis. Namun, seuluruh persyaratannya ditolak Soeratin dkk. PSSI menolak dengan nama Hindia Belanda, menolak menggunakan kostum orange dengan bendera merah-putih-biru, dan menyanyikan Het Wilhelmus,.

Namun, di sisi lain, Soeratin mengizinkan delapan orang pemain untuk ikut ke PD. “Semua pemain di level mana pun, PD adalah cita-cita utama. Ini kesempatan yang luar biasa, ” katanya pada dr. Achmad Nawir dkk.

Lepas dari semua itu, suka atau tidak, lamgsung atau tidak langsung, PSSI memiliki peran besar untuk ilut memerdekakan republik. Tampilnya delapan pemain pribumi di PD ke-3, Perancis seperti sebuah jendela yang terbuka. Semua pihak melihat dengan jelas bahwa Indonesia itu berbeda denfan Hindia Belanda. Orang makin sadar bahwa ada anak-anak Indonesia yang memiliki kenampuan luar biasa di dunia sepakbola.

Hari ini, usia PSSI genap 94 tahun. Meski kita belum sempat berlaga di putaran final Piala Dunia, di level senior, tapi usaha ke arah itu semakin besar.
Semoga satu saat nanti, timnas senior kita bisa sungguh-sungguh tampil di Piala Dunia…
Selamat ulang tahun PSSI…

Tetap semangat PSSI…

Advertisement

M. Nigara